TIRAINEWS.COM — Hari terakhir Agustus 2026 menjadi hari yang sibuk bagi petugas Pos Pengamatan Gunung Api di Indonesia. Enam gunung berapi dari empat provinsi berbeda dilaporkan mengalami erupsi hampir bersamaan, menciptakan rentetan aktivitas seismik yang harus dipantau ketat. Fenomena ini bukan indikasi satu pemicu tunggal, melainkan dinamika vulkanik independen yang terjadi di masing-masing gunung.
Bagi traveler yang sedang merencanakan perjalanan ke kawasan pegunungan atau destinasi alam, penting untuk memahami status terkini dan zona bahaya yang telah ditetapkan. Berikut rincian enam gunung yang erupsi pada 31 Agustus 2026.
Gunung Ibu Erupsi Enam Kali dalam Sehari
Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, mencatatkan aktivitas erupsi berulang sepanjang hari. Berdasarkan laporan yang dihimpun, erupsi pertama terjadi pada pukul 00.01 WIT, kemudian berlanjut pada pukul 06.53, 09.13, 10.58, 14.59, dan 15.18 WIT. Total enam kali letusan dengan kolom abu yang membumbung hingga beberapa ratus meter di atas puncak.
Karakter erupsi Gunung Ibu yang dapat terjadi berkali-kali dalam sehari membuat kawasan ini masuk dalam pengawasan intensif. Masyarakat dan pengunjung diminta tidak mendekati area yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.
Ili Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki: Dua Gunung di NTT Bergolak
Di Nusa Tenggara Timur, dua gunung api melaporkan erupsi pada waktu yang berdekatan. Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata meletus sekitar pukul 11.28 Wita dengan kolom abu setinggi 700 meter di atas puncak, atau mencapai 2.123 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu bergerak condong ke arah barat mengikuti arah angin.
Beberapa jam kemudian, Gunung Lewotobi Laki-laki di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, ikut beraktivitas pada pukul 12.53 Wita. Erupsi ini menghasilkan kolom abu kelabu setinggi 300 meter di atas puncak dengan durasi sekitar 3 menit 22 detik dan amplitudo maksimum 7,4 milimeter.
Gunung Lewotobi Laki-laki saat ini berada pada Level III atau Siaga. Otoritas setempat melarang aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Warga juga diimbau mewaspadai potensi banjir lahar hujan di sepanjang sungai yang berhulu di kawasan gunung, serta menggunakan masker jika terdampak hujan abu.
Semeru Catat 19 Kali Letusan dan Luncurkan Lava Pijar
Gunung Semeru di Jawa Timur menunjukkan aktivitas vulkanik paling tinggi di antara gunung lainnya. Dalam periode pengamatan, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini mengalami 19 kali letusan dengan kolom abu kelabu setinggi 400 hingga 900 meter yang bergerak ke arah barat.
Selain letusan, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan adanya guguran lava pijar dengan jarak luncur hingga sekitar 1.000 meter ke arah tenggara. Kondisi ini menandakan pergerakan material vulkanik dari tubuh gunung masih aktif dan perlu diwaspadai.
Aktivitas Anak Krakatau dan Sinabung
Dua gunung lainnya yang ikut erupsi adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Keduanya menunjukkan aktivitas yang terpantau oleh pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi.
Untuk informasi terkini mengenai status gunung dan rekomendasi keselamatan, masyarakat dapat mengikuti kanal resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau Badan Geologi. Wisatawan yang berada di sekitar kawasan gunung berapi sebaiknya mematuhi imbauan petugas dan tidak memaksakan diri masuk ke zona terlarang.
Tips Aman bagi Wisatawan di Kawasan Gunung Api
- Selalu cek status gunung melalui aplikasi MAGMA Indonesia atau akun resmi PVMBG sebelum berangkat.
- Patuhi radius aman yang ditetapkan, minimal 5 kilometer dari pusat erupsi untuk status Siaga.
- Siapkan masker cadangan untuk melindungi saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
- Hindari area di sepanjang sungai yang berhulu di gunung api karena berisiko banjir lahar.
Bagi Anda yang sedang berada di kawasan wisata dekat gunung berapi, disarankan untuk menghubungi kantor pos pengamatan setempat atau dinas pariwisata daerah untuk mendapatkan arahan terbaru. Durasi kunjungan ke area pegunungan sebaiknya dibatasi dan selalu mengutamakan keselamatan di atas kepentingan dokumentasi.