TIRAINEWS.COM — Kecelakaan fatal terjadi di jalur pendakian Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dude Kurniawan Pasha (17) ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di area puncak Sejati, Minggu (23/8), setelah sebelumnya dilaporkan hilang kontak sejak Sabtu (22/8) sore.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung, Totok Nursetyanto, membenarkan penemuan jenazah korban. "Pada Minggu (23/8) pukul 07.00, BPBD Temanggung mendapat informasi penemuan korban yang berada di area puncak sejati dalam keadaan meninggal dunia," jelasnya dalam keterangan tertulis.
Kronologi Pendakian yang Berakhir di Jurang
Dude mendaki Gunung Sumbing bersama dua temannya, Rangga Dwi Arianto (17) dan Fatahilah (17). Ketiganya memulai pendakian dari Basecamp Banaran pada Jumat (21/8) pukul 21.30 WIB dengan metode tektok—naik dan turun di hari yang sama tanpa menginap.
"Pada pukul 23.30 WIB, rombongan mulai pendakian (tektok) berangkat dari Basecamp naik ojek dengan kondisi fisik sehat. Rombongan melakukan pendakian (tektok) Gunung Sumbing via Banaran menuju puncak Sejati," ujar Totok.
Perjalanan mulai terpisah saat Rangga memutuskan berhenti di area sabana dan turun bersama rombongan lain. Dude dan Fatahilah melanjutkan perjalanan ke puncak. Setelah mencapai puncak, keduanya turun pada pukul 13.00 WIB Sabtu, tetapi mengambil jalur berbeda.
"Korban mencari jalur sendiri melalui tebing di bawah puncak Sejati sisi utara. Diduga pada saat itu korban terpisah dengan temannya Fatahilah," terang Totok.
Saat terpisah, korban mengenakan pakaian serba hitam, topi hitam dengan coretan putih, dan membawa logistik berupa dua roti. Fatahilah melaporkan kejadian ini ke Basecamp Banaran, dan pencarian malam hari langsung dilakukan.
Ayah Korban: Sempat Tidak Diizinkan Sang Ibu
Sri Widodo, ayah Dude, mengenang anak bungsunya itu sempat tidak mendapat izin dari ibunya untuk mendaki. Namun, pelajar SMK Adisoemarmo itu tetap nekat berangkat.
"Sempat izin, tapi ya ibunya keberatan. Karena di rumah kegiatannya banyak, kan 17-an, merti dusun dulu, kegiatan banyak. Tapi sudah terlanjur nekat ini," ujar Sri Widodo saat ditemui di rumah duka.
Sri mengaku mulai waswas saat mengetahui putranya hilang kontak pada Sabtu (23/8) sore. Ponsel Dude sudah tidak aktif sejak pukul 18.00 WIB. "Kemarin hari Sabtu jam 6 sore itu di-WA sudah nggak aktif. Jam 18.15 tanya WA temannya, katanya belum turun. Terus Omnya lapor ke Basarnas," katanya.
Malam itu juga Sri langsung meluncur ke lokasi pendakian. Namun, kondisi cuaca dan waktu yang sudah malam membuat pencarian baru bisa dimaksimalkan pada Minggu pagi pukul 05.00 WIB. Kabar duka pun diterima Sri yang menunggu di basecamp.
"Ya kaget, tapi kalau dinalar kalau jatuh di gunung saja ya alhamdulillah cepat diketemukan itu lho," tutupnya dengan tegar.
Pelajaran Penting untuk Pendaki
Insiden ini menyoroti bahaya pendakian tektok di gunung setinggi 3.371 mdpl ini. Medan Gunung Sumbing, terutama area puncak Sejati dengan tebing-tebing curam di sisi utaranya, tidak mentoleransi kesalahan navigasi.
Bagi pendaki yang berencana menaklukkan Gunung Sumbing via Basecamp Banaran, beberapa hal perlu diperhatikan:
- Hindari pendakian tektok. Metode ini memaksa pendaki memacu fisik melawan waktu, meningkatkan risiko kelelahan dan salah langkah.
- Patuhi jalur resmi. Mencari jalur sendiri di area tebing sangat berbahaya, terutama tanpa peralatan dan pengetahuan medan yang memadai.
- Pastikan perlengkapan navigasi lengkap. Bawa peta fisik, GPS, atau minimal pelajari rute sebelum berangkat.
- Selalu informasikan rencana perjalanan ke basecamp atau orang terdekat.
Informasi terkini mengenai kondisi jalur dan regulasi pendakian Gunung Sumbing dapat dikonfirmasi langsung ke BPBD Kabupaten Temanggung atau Basecamp Banaran sebelum memulai perjalanan.