TIRAINEWS.COM — Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 resmi dibuka di Kota Surabaya dengan menyasar penguatan rantai nilai halal dan perluasan pembiayaan syariah. Jawa Timur dipilih sebagai tuan rumah karena 97,33 persen penduduknya Muslim dan memiliki 7.347 pesantren yang dinilai menjadi fondasi ekonomi syariah nasional.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti membuka langsung gelaran tersebut. Ia menegaskan ekonomi dan keuangan syariah memegang peran strategis sebagai sumber pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus pilar transformasi ekonomi nasional.
Penguatan peran itu ditempuh lewat tiga jalur utama: pengembangan ekosistem rantai nilai halal yang terintegrasi dan berdaya saing, perluasan pembiayaan syariah, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi dan keuangan syariah.
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Integrasi Tiga Pilar
Destry menyebut kolaborasi antara pelaku usaha, lembaga keuangan syariah, pemerintah, pesantren, dan pemangku kepentingan lain menjadi syarat agar ketiga pilar tersebut terintegrasi dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menempatkan pesantren sebagai simpul ekonomi yang menghubungkan santri, usaha mikro, dan lembaga keuangan syariah. Dengan jumlah pesantren mencapai 7.347 unit, provinsi ini dinilai menjadi salah satu barometer ekonomi syariah nasional.
Kegiatan ini dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Anggota Komisi XI DPR RI, Ketua Dewan Pengurus Pusat Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN), serta para pimpinan Nahdlatul Ulama Provinsi Jawa Timur.
Akses Pasar dan Pembiayaan Jadi Fokus Utama
FESyar Regional Jawa 2026 menyasar dua kebutuhan mendesak pelaku usaha syariah di daerah: akses pasar yang lebih luas dan akses pembiayaan yang lebih mudah. Keduanya menjadi penghambat utama pertumbuhan usaha halal di tingkat lokal.
Perluasan pembiayaan syariah ditempuh melalui pendekatan ekosistem, bukan sekadar penyaluran dana. Lembaga keuangan syariah didorong masuk ke rantai pasok halal, mulai dari produksi bahan baku, pengolahan, hingga distribusi ke konsumen.
Dari sisi pasar, integrasi rantai nilai halal diharapkan membuka peluang ekspor bagi produk usaha mikro dan pesantren. Selama ini produk pesantren banyak yang berkualitas tetapi belum tersambung ke jaringan distribusi yang lebih luas.
Jawa Timur Jadi Barometer Ekonomi Syariah Nasional
Pemilihan Jawa Timur sebagai lokasi FESyar Regional Jawa bukan tanpa alasan. Komposisi penduduk Muslim yang mencapai 97,33 persen menjadikan provinsi ini pasar potensial bagi produk dan jasa keuangan syariah.
Jaringan pesantren yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota memberi kanal distribusi yang sudah terbangun. Pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga pusat kegiatan usaha yang melibatkan ribuan santri dan masyarakat sekitar.
Literasi dan inklusi keuangan syariah menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Tingginya populasi Muslim tidak otomatis berbanding lurus dengan penetrasi produk keuangan syariah, sehingga edukasi ke pelaku usaha dan konsumen tetap diperlukan.
Dorongan bagi Pelaku Usaha dan Investor
Bagi pelaku usaha syariah, gelaran ini membuka ruang temu dengan lembaga keuangan dan pembeli potensial dalam satu forum. Transaksi dan kerja sama yang terjalin di ajang ini menjadi indikator awal efektivitas pendekatan ekosistem.
Investor yang memantau sektor ekonomi syariah dapat mencermati perkembangan rantai nilai halal sebagai sektor yang mendapat dukungan kebijakan dan pendanaan. Sektor ini bergerak di ranah riil, mulai dari makanan, fesyen, hingga jasa keuangan.
Bank Indonesia menempatkan FESyar sebagai agenda tahunan yang menghubungkan program pusat dengan kebutuhan daerah. Hasil dari forum regional ini menjadi masukan bagi perumusan kebijakan ekonomi syariah di tingkat nasional.