TIRAINEWS.COM — Presiden Prabowo Subianto mendorong revitalisasi industri tekstil nasional dengan melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai penggerak investasi. Langkah itu dinilai relevan untuk memperkuat fondasi manufaktur, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing ekspor. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada seberapa nyata nilai tambah yang dihasilkan, bukan sekadar besarnya dana yang masuk.
Paragraf pembuka: Perhatian pemerintah terhadap industri tekstil kembali mengemuka. Presiden Prabowo Subianto disebut mendorong revitalisasi sektor ini, sementara Danantara diposisikan sebagai kendaraan investasi untuk industri strategis. Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), Sarlina Sari, menilai langkah tersebut sebagai momentum memperkuat fondasi manufaktur nasional.
Tekstil dan Fondasi Manufaktur Nasional
Industri tekstil punya rekam jejak panjang dalam perjalanan industrialisasi Indonesia. Sektor ini tidak hanya menyumbang produksi dan ekspor, tetapi juga menyerap tenaga kerja besar dan menghidupkan industri pendukung di berbagai daerah.
"Industri tekstil memiliki posisi penting dalam perjalanan industrialisasi Indonesia. Selain berkontribusi terhadap kegiatan produksi dan ekspor, sektor ini memiliki keterkaitan dengan penyerapan tenaga kerja, industri pendukung, serta aktivitas ekonomi di berbagai daerah," kata Sarlina saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Menurut Sarlina, perhatian pemerintah perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas, yakni sebagai bagian dari strategi memperkuat fondasi industri nasional. Bukan sekadar kebijakan sesaat.
Tantangan yang Membelit Industri Tekstil
Dalam perkembangannya, industri tekstil nasional menghadapi tekanan dari banyak sisi. Persaingan global makin ketat, rantai pasok berubah, biaya produksi naik, permintaan pasar bergeser, dan kebutuhan modernisasi mesin serta teknologi makin mendesak.
Di tengah situasi itu, perhatian Presiden Prabowo terhadap revitalisasi dinilai menjadi salah satu langkah yang dapat mendorong transformasi sektor manufaktur. Salah satu aspek yang mendapat sorotan adalah peran Danantara dalam mendukung investasi dan penguatan industri strategis.
Sarlina menegaskan investasi pada industri tekstil tidak cukup hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Investasi perlu menghasilkan peningkatan produktivitas, efisiensi, kualitas produk, inovasi teknologi, serta kemampuan menembus pasar global.
"Danantara memiliki posisi strategis dalam mendorong investasi jangka panjang yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia," ujarnya.
Ukuran Keberhasilan Bukan Besarnya Dana
Sarlina menekankan dukungan terhadap industri tekstil akan semakin berarti apabila diarahkan pada modernisasi teknologi, penguatan rantai pasok, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan pasar ekspor.
Ia juga menyoroti pentingnya tata kelola dan akuntabilitas dalam setiap investasi berskala besar. Setiap investasi harus disertai indikator kinerja yang jelas agar dampaknya dapat diukur secara transparan.
Ukurannya, kata dia, bukan hanya besarnya dana yang masuk, tetapi juga peningkatan produktivitas, efisiensi, kualitas, ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan keberlanjutan industri.
Indikator keberhasilan revitalisasi mencakup peningkatan produktivitas industri, penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, penguatan industri pendukung, peningkatan daya saing produk nasional, serta kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Transformasi Menyeluruh dan Sinergi Antar Pihak
Menurut Sarlina, tantangan industri tekstil saat ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan jangka pendek. Diperlukan transformasi menyeluruh yang mencakup teknologi, sumber daya manusia, tata kelola, pembiayaan, rantai pasok, inovasi, serta akses pasar.
"Industri tekstil Indonesia perlu bergerak menuju industri yang lebih produktif, berbasis teknologi, inovatif, efisien, dan memiliki daya saing global," jelasnya.
Ia juga menekankan sinergi antara pemerintah, Danantara, pelaku industri, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam memastikan agenda revitalisasi berjalan secara berkelanjutan.
Penutup: Secara historis, industri tekstil pernah menjadi salah satu sektor penting dalam perkembangan manufaktur Indonesia. Revitalisasi saat ini dapat menjadi momentum membangun kembali kekuatan sektor tersebut dengan pendekatan yang lebih modern. Namun, hasilnya akan ditentukan oleh seberapa tepat sasaran investasi, seberapa baik tata kelola, dan seberapa nyata nilai tambah yang tercipta bagi perekonomian.