TIRAINEWS.COM — Harga emas dunia turun 1,1 persen menjadi USD4.236,33 per ons pada perdagangan Senin, 28 September 2026, melanjutkan tren pelemahan mingguan. Kenaikan harga minyak akibat kebuntuan Selat Hormuz dan data aktivitas ekonomi AS yang lebih kuat memperkuat ekspektasi The Federal Reserve menahan suku bunga tinggi lebih lama. Tekanan itu membuat posisi emas sebagai aset safe haven kian terdesak.
Penurunan tersebut tercermin dari kontrak XAU/USD yang melemah 1,1 persen ke USD4.236,33 per ons, sementara Emas Berjangka (Gold Futures) turun 1,2 persen menjadi USD4.270,50. Di saat yang sama, Indeks Dolar AS justru turun 0,31 persen ke level 100,97, berdasarkan data Investing.
Pelemahan emas terjadi di tengah pasar yang masih mencerna arah kebijakan suku bunga The Fed. Harga masih jauh di bawah rekor tertinggi hampir USD5.600 yang dicapai pada Januari, dan sepanjang bulan ini emas bergerak dalam kisaran sempit USD4.230 hingga USD4.510 per ons.
Kebuntuan Selat Hormuz Angkat Harga Minyak
Harga minyak naik setelah Iran menyatakan tidak akan melunakkan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menolak usulan Iran untuk membuka kembali jalur air tersebut dalam tujuh hari, meski ia menyatakan berharap negosiasi dengan Teheran berlanjut pekan ini.
Konflik AS-Iran kini memasuki bulan kedelapan. Harga minyak mentah Brent telah naik sekitar 70 persen sepanjang tahun ini, dan harga energi yang tinggi menambah kekhawatiran inflasi bagi pasar dalam menilai langkah The Fed selanjutnya.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Oktober Capai 65 Persen
Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, mengatakan imbal hasil (yield) obligasi Treasury jangka panjang terdorong naik akibat ekspektasi pertumbuhan yang lebih kuat, kekhawatiran mengenai utang pemerintah, dan ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan.
"Para pejabat The Fed secara bulat memutuskan pada pertengahan September untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin," demikian tercatat dari hasil rapat tersebut, dan beberapa pembuat kebijakan sejak saat itu mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut mungkin diperlukan.
Pasar memperkirakan peluang sekitar 65 persen untuk kenaikan suku bunga lagi pada Oktober. Tekanan terhadap emas juga datang dari pasar obligasi, dengan selisih imbal hasil (spread) antara obligasi Treasury tenor 10 tahun dan 2 tahun menyempit hingga hanya 17 basis poin pekan lalu, celah terkecil sejak awal 2025.
Permintaan ETF Emas Tetap Kuat
ANZ menyatakan kondisi makroekonomi masih menantang bagi emas, di mana imbal hasil yang lebih tinggi dan dolar yang kuat menekan harga. Namun, bank tersebut mencatat permintaan exchange-traded fund (ETF) tetap kuat, dengan kepemilikan ETF emas meningkat sekitar 50 ton sepanjang bulan ini.
Sentimen konsumen AS juga melemah pada September, turun ke level terendah dalam empat bulan seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai harga dan kondisi ekonomi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak The Fed tetap terbuka terhadap berbagai opsi suku bunga, berpendapat bahwa peningkatan produktivitas yang didorong kecerdasan buatan (AI) dan deregulasi dapat membantu meredam inflasi.
Data PCE dan Ketenagakerjaan Jadi Penentu Arah Berikutnya
Pasar akan mencermati data inflasi PCE bulan Agustus yang dirilis pada Rabu serta laporan ketenagakerjaan September pada Jumat. Kedua indikator tersebut merupakan acuan inflasi pilihan The Fed dan data pertumbuhan lapangan kerja yang diharapkan memberi petunjuk baru mengenai arah kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Bagi investor, kombinasi yield obligasi yang tinggi dan dolar yang perkasa membuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai berkurang dalam jangka pendek. Posisi emas baru berpotensi kembali menguat jika data PCE dan ketenagakerjaan AS nanti mengecewakan ekspektasi kenaikan suku bunga.