Pencarian

Kisah Anak Flores Tetap Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan

Jumat, 09 Oktober 2026 • 09:01:33 WIB
Kisah Anak Flores Tetap Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan
Anak-anak di Flores tetap bersemangat belajar meski fasilitas pendidikan belum merata.

TIRAINEWS.COM — Sebagian anak di Flores harus menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya sampai ke ruang kelas. NYATA Foundation mengunjungi 11 sekolah di Nusa Tenggara Timur selama sepekan dan menemukan semangat belajar yang jarang ditemui di tengah fasilitas yang belum merata.

Kunjungan itu memperlihatkan bahwa anak-anak tidak hanya datang untuk mengikuti pelajaran. Mereka menunjukkan rasa ingin tahu, mencoba berbagai aktivitas, dan berani memperlihatkan kemampuan ketika diberi kesempatan.

Bukan Keterbatasan yang Membekas

Co Founder sekaligus CMO NYATA Foundation, Pamela Berliana, menuturkan bahwa yang paling membekas dari perjalanan itu justru bukan soal sarana. Ia menyebut semangat dan rasa ingin tahu anak-anak sebagai hal yang paling kuat terekam selama kunjungan.

"Yang membekas itu bukan keterbatasannya, tapi semangat dan rasa ingin tahu mereka yang begitu besar. Mereka tetap belajar, tetap mencoba, tetap berkarya. Saat kami datang, mereka benar-benar senang dan sangat antusias menunjukkan kemampuan mereka dengan percaya diri," kata Pamela saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.

Bagi Pamela, pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan fasilitas. Keseharian anak, guru, dan lingkungan yang mendukung proses belajar sama pentingnya untuk diperhatikan.

Sebelas Sekolah, Kebutuhan yang Berbeda

Selama tujuh hari, tim NYATA Foundation mengunjungi 11 sekolah partner dan melakukan survei terhadap lima calon sekolah partner. Mereka berbicara dengan guru, orangtua, dan anak-anak, sekaligus mengikuti proses belajar-mengajar di masing-masing sekolah.

"Kami benar-benar mengunjungi satu per satu sekolah partner kami untuk mendengar dan melihat kebutuhan mereka," ujar Co Founder sekaligus CEO NYATA Foundation, Nicole Oeij Teng.

Pengamatan langsung memperlihatkan kebutuhan yang tidak seragam. Sebagian sekolah memerlukan dukungan untuk melengkapi sarana pendidikan. Sebagian lain menghadapi tantangan akses, sementara ketersediaan guru dan proses belajar-mengajar juga menjadi perhatian.

Pendampingan Guru untuk Potensi Anak

Perhatian kemudian diarahkan pada kemampuan yang dimiliki anak-anak. Guru dinilai punya posisi penting karena berinteraksi dengan siswa setiap hari dan bisa melihat minat yang mulai muncul.

Pendampingan guru disiapkan agar bakat anak memperoleh ruang untuk berkembang. "Lebih ke mungkin kita akan memberikan pendampingan guru dan program supaya bakat anak-anak ini bisa lebih keluar," ungkap Nicole.

"Jadi ada guru, ada kegiatan belajar mengajar, tapi juga ada kesempatan untuk mereka bisa coba dan mengembangkan potensi."

Olahraga dan Konsep One Child One Journey

Olahraga menjadi salah satu bidang yang turut dipertimbangkan. Sejumlah anak dinilai memiliki potensi yang dapat diasah melalui program pendampingan bersama Irjen Jayadi, pelari lintas alam dan ultramaraton yang mengikuti perjalanan ke Flores.

Nicole menyebut olahraga punya manfaat lebih dari sekadar aktivitas fisik. "Kami juga mau menghadirkan pendampingan program olahraga, karena olahraga sendiri kan banyak manfaatnya, dari sportivitas, teamwork, dan lain-lain," katanya.

Pendekatan lain disiapkan lewat konsep one child one journey. Skema itu mendorong Kakak Asuh untuk mendampingi satu anak dalam perjalanan pendidikan yang lebih panjang, sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.

"Mendampingi mereka dari TK sampai terus ke jenjang yang berkelanjutan. Kita penginnya TK, SD, SMP, SMA sudah membuahkan hasil," ujar Nicole.

Rancangan program tersebut masih dalam tahap pengembangan. Bentuk kegiatan dan pembagian peran dalam kolaborasi bersama Irjen masih dibahas. Kolaborasi lewat program Corporate Social Responsibility (CSR) juga terbuka, dengan bentuk dukungan yang disesuaikan kebutuhan pendidikan di lapangan.

Yang Bisa Orangtua Ambil dari Kisah Ini

Cerita dari Flores mengingatkan bahwa fasilitas bukan satu-satunya penentu. Kehadiran guru yang mendampingi, ruang untuk mencoba, dan kepercayaan pada kemampuan anak sering jadi pemicu semangat belajar yang lebih besar.

Bagi orangtua di rumah, mendampingi anak sejak jenjang awal hingga berkelanjutan bisa jadi cara sederhana menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Anak yang merasa didampingi cenderung lebih berani menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.

Sumber: liputan6.com

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks