Game "Build the Wall" di Situs Gedung Putih Dituding Bajak Tetris, Perusahaan Bereaksi Tegas
TIRAINEWS.COM — Gedung Putih merilis enam game arcade berbasis browser pada Kamis lalu. Salah satunya langsung memicu kontroversi: "Build the Wall". Secara visual dan mekanisme, game ini hampir identik dengan Tetris—tapi misinya berbeda: membangun tembok untuk menahan "gerombolan zombie" di area yang disebut "Perbatasan Selatan".
Konsep itu jelas mengacu pada kebijakan pembangunan tembok di perbatasan AS-Meksiko, program unggulan Presiden Donald Trump. Namun, The Tetris Company menegaskan bahwa mereka tidak punya hubungan apa pun dengan game tersebut.
Pernyataan Resmi The Tetris Company
Melalui akun Instagram resminya, The Tetris Company menyatakan "tidak terlibat dalam pembuatan Build the Wall". Mereka juga menegaskan "menganggap serius pelanggaran hak cipta". Perusahaan yang mengelola waralaba Tetris selama lebih dari 40 tahun ini memastikan tidak memberikan izin penggunaan merek atau kekayaan intelektualnya untuk game buatan pemerintahan Trump tersebut.
"Di Tetris, kami percaya pada kekuatan koneksi dan menyatukan orang-orang," demikian bunyi pernyataan perusahaan. "Untuk para penggemar kami di mana pun: kami mencintai kalian, kami melihat kalian, dan kami bersyukur memiliki kalian di komunitas kami."
Saat dimintai komentar lebih lanjut oleh Engadget, The Tetris Company menambahkan bahwa selama lebih dari 40 tahun, Tetris telah menyatukan orang-orang lintas generasi dan budaya melalui permainan dan kegembiraan. Mereka juga menyatakan sedang meninjau masalah ini lebih lanjut.
Mekanisme Game yang Berbeda dari Tetris
Secara gameplay, "Build the Wall" memang meniru pola dasar Tetris: pemain menumpuk dan menyusun balok yang jatuh. Bedanya, menyelesaikan satu baris balok tidak membuat baris tersebut hilang seperti di Tetris. Justru sebaliknya, tembok akan terus bertambah tinggi dan tebal untuk menghalau "gerombolan zombie" yang datang.
Perbedaan mendasar ini mengubah filosofi permainan. Tetris mengajarkan pemain untuk membersihkan baris demi baris, sementara "Build the Wall" mendorong pemain untuk terus menumpuk tanpa henti—sebuah metafora gamblang tentang kebijakan imigrasi yang ingin diterapkan pemerintahan Trump.
Bukan Pertama Kalinya Pemerintah AS Langgar Hak Cipta
Insiden ini bukan hal baru dalam komunikasi daring pemerintahan Trump. Sebelumnya, berbagai lembaga pemerintah AS kerap menggunakan referensi budaya pop untuk menarik perhatian audiens yang melek teknologi, seperti memakai meme Halo untuk promosi rekrutmen ICE (Imigrasi dan Bea Cukai AS).
Upaya semacam ini sering berujung pada penghapusan konten karena melanggar hak cipta, termasuk penggunaan musik artis tanpa lisensi yang berujung pada DMCA takedown. "Build the Wall" bukan satu-satunya properti yang "dipinjam" Gedung Putih—ada kemungkinan game browser lain dalam koleksi tersebut juga menghadapi nasib serupa jika pemilik hak ciptanya mengambil tindakan hukum.
Hingga artikel ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih mengenai potensi pelanggaran hak cipta yang dilakukan game "Build the Wall". Namun, respons cepat The Tetris Company menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam jika kekayaan intelektualnya digunakan tanpa izin untuk kepentingan politik.