TIRAINEWS.COM — Koreksi mingguan ini menjadi yang terdalam dalam beberapa pekan terakhir, membawa emas menjauh dari level tertinggi lebih dari tiga bulan yang sempat diraih pada Selasa lalu. Pemicu utamanya adalah pernyataan Kevin Warsh yang mengindikasikan The Fed masih memiliki pekerjaan rumah untuk memastikan inflasi kembali ke target 2 persen.
Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, situasi yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi aset logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Investor pun melakukan aksi ambil untung setelah reli sebelumnya.
Sinyal The Fed Memberatkan, tapi Sentimen Analis Masih Positif
Meski tekanan ekspektasi kebijakan moneter meningkat, hasil survei terhadap analis Wall Street menunjukkan nada yang berbeda. Sebagian besar dari mereka memperkirakan harga emas berpotensi kembali menguat dalam pekan ini, dengan level resistensi terdekat yang diamati di kisaran USD 4.470 per troy ons.
Pandangan ini muncul dari keyakinan bahwa faktor permintaan safe haven masih kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Beberapa analis menilai koreksi yang terjadi justru menjadi titik masuk bagi investor yang sebelumnya menunggu harga lebih rendah.
Level Kunci yang Dipantau Investor Pekan Ini
Pasar akan mengarahkan perhatian pada rilis data tenaga kerja AS yang dijadwalkan keluar akhir pekan ini. Data non-farm payrolls dan tingkat pengangguran akan menjadi penentu utama arah pergerakan emas berikutnya.
- Jika data tenaga kerja lebih lemah dari estimasi, tekanan terhadap dolar AS meningkat dan emas berpeluang rebound tajam.
- Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan akan menguatkan sikap hawkish The Fed dan berpotensi membawa emas menguji support USD 4.400.
Level psikologis USD 4.400 menjadi garis pertahanan penting bagi investor. Jika tertembus, emas berisiko melanjutkan koreksi lebih dalam. Namun, penutupan di atas USD 4.470 akan membuka ruang menuju level tertinggi sebelumnya.
Investasi mengandung risiko.