Pencarian

5 Cara Membesarkan Anak Tangguh dari Psikolog Harvard, Hindari Pola Asuh Protektif

Rabu, 26 Agustus 2026 • 06:04:01 WIB
5 Cara Membesarkan Anak Tangguh dari Psikolog Harvard, Hindari Pola Asuh Protektif
Seorang psikolog Harvard memaparkan lima cara membesarkan anak tangguh dengan menghindari pola asuh protektif.

TIRAINEWS.COM — Membesarkan anak yang tangguh tidak berarti harus melindunginya setiap waktu. Justru sebaliknya, memberikan ruang bagi anak untuk menghadapi tantangan akan melatih mereka beradaptasi dengan kesulitan dan mencari solusi sendiri.

Psikolog Harvard menyebutkan bahwa perlindungan berlebihan justru mengirim sinyal pada anak bahwa dunia ini tidak aman. Akibatnya, rasa percaya diri anak menurun, ketergantungan semakin dalam, dan kecemasan makin kuat. Lalu, bagaimana cara yang tepat?

1. Tahan Diri Sebelum Membantu Anak

Saat anak kesulitan mengerjakan PR atau bertengkar dengan teman, naluri Bunda pasti ingin segera turun tangan. Padahal, kebiasaan ini membuat anak nyaman bergantung dan sulit memecahkan masalahnya sendiri.

Sebelum menawarkan bantuan, berhentilah sejenak. Coba tanyakan pada anak, "Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi ini?" Pertanyaan sederhana ini mampu menstimulasi pemikiran mandiri dan memunculkan ide-ide kreatif dari dalam diri anak.

2. Biarkan Anak Merasakan Emosi Negatif

Melihat anak sedih, cemas, atau stres memang membuat hati orang tua tidak tega. Banyak yang langsung mencari pengalihan menyenangkan agar anak berhenti merasa tidak nyaman.

Padahal, perasaan menyakitkan adalah bagian alami dari kehidupan. Bunda perlu memberi tahu anak bahwa emosi tersebut wajar dan mereka mampu mengatasinya. Keyakinan ini jauh lebih berharga daripada menghindari rasa sakit itu sendiri.

3. Jangan Menurunkan Ekspektasi pada Anak

Salah satu bentuk pola asuh protektif adalah menurunkan standar karena takut anak gagal. Membebaskan anak dari latihan, pelajaran, atau rutinitas agar tidak stres justru membuat mereka rapuh.

Secara tidak langsung, Bunda sedang menunjukkan ketidakpercayaan pada kemampuan anak. Anak yang selalu berada di zona nyaman tidak akan pernah belajar menghadapi tekanan. Dukungan yang tepat adalah membantu mereka berkembang, bukan melindungi dari setiap kesulitan.

4. Fokus pada Proses, Bukan Hasil Akhir

Orang tua protektif cenderung menekan anak untuk tidak berbuat salah dan fokus pada hasil akhir. Mereka menginginkan jaminan kesuksesan daripada mengajarkan cara bertahan saat menghadapi kegagalan.

Mulai sekarang, beri anak kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya sendiri. Hindari memperdebatkan hal yang tidak berjalan baik. Dukung anak saat mereka berhasil memecahkan masalah dan belajar dari proses yang dilalui.

5. Kelola Kecemasan Orang Tua

Sebagian besar pola asuh protektif bersumber dari ketakutan orang tua akan kegagalan. Misalnya, langsung menghubungi orang tua lain setelah perselisihan kecil karena takut anak dijauhi, atau mengawasi terus saat anak belajar karena cemas dengan prestasinya.

Perilaku ini membuat anak merasa tidak dipercaya. Sadari bahwa kecemasan Bunda bisa memengaruhi cara mengasuh di rumah. Cobalah lebih rileks dan percaya bahwa anak mampu melewati tantangannya sendiri.

Membangun ketahanan mental sejak dini akan mengurangi dampak buruk saat anak mengalami stres berat di fase perkembangan selanjutnya. Lima cara di atas bisa langsung Bunda praktikkan di rumah untuk membesarkan anak yang mandiri dan tangguh.

Sumber: haibunda.com

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks