Pencarian

Tanpa Subsidi, Harga Pertalite Diperkirakan Rp17.200 per Liter

Kamis, 01 Oktober 2026 • 05:02:31 WIB
Tanpa Subsidi, Harga Pertalite Diperkirakan Rp17.200 per Liter
Praktisi migas Hadi Ismoyo memperkirakan harga Pertalite mencapai Rp17.200 per liter jika dijual secara komersial tanpa subsidi.

TIRAINEWS.COM — Praktisi minyak dan gas bumi Hadi Ismoyo memperkirakan harga Pertalite bisa menembus Rp17.200 per liter jika dijual secara komersial tanpa dukungan subsidi dan kompensasi pemerintah. Angka itu jauh di atas harga yang dibayarkan konsumen saat ini, Rp10.000 per liter, sehingga selisihnya sekitar Rp7.200 per liter ditanggung melalui subsidi. Pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi belum berubah hingga akhir 2026.

Perhitungan itu disampaikan Hadi Ismoyo dengan asumsi harga minyak mentah Brent rata-rata US$100 per barel dan nilai tukar rupiah Rp17.800 per dolar AS. Dalam skenario yang sama, harga solar diperkirakan berada di kisaran Rp16.000 per liter, sementara solar bersubsidi saat ini dijual Rp6.800 per liter.

Selisih untuk solar bahkan lebih lebar, mencapai sekitar Rp9.200 per liter antara harga yang dibayarkan konsumen dan perkiraan harga keekonomiannya. Angka-angka ini bukan tarif resmi, melainkan estimasi yang menunjukkan besarnya peran subsidi dalam menahan harga BBM di tingkat konsumen.

Besaran Selisih Harga Pertalite dan Solar

Pertalite saat ini ditetapkan Rp10.000 per liter. Jika dihitung secara komersial, Hadi memperkirakan harganya mencapai Rp17.200 per liter dengan yield 0,65.

Untuk solar, harga subsidi Rp6.800 per liter dibandingkan perkiraan harga keekonomian Rp16.000 per liter dengan yield diesel 0,7. Artinya, selisih yang ditanggung melalui subsidi dan kompensasi mencapai sekitar Rp9.200 per liter.

"Kalau Pertalite secara komersial bisa sekitar Rp17.200 per liter dengan yield 0,65. Kemudian solar sekitar Rp16.000 dengan yield diesel 0,7," kata Hadi.

Faktor yang Menentukan Harga Keekonomian

Hadi menyebut harga minyak mentah dunia sedang berada pada level tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik. Kondisi itu berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi.

Nilai tukar rupiah juga menjadi variabel penting. Asumsi Rp17.800 per dolar AS membuat biaya impor minyak semakin mahal, dan Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Impor minyak mentah mencapai sekitar 1,2 juta barel per hari. Sementara impor bensin dan solar sekitar 350.000 barel per hari.

Beban Anggaran jika Subsidi Naik

Konsumsi BBM nasional diperkirakan mencapai sekitar 90 juta kiloliter (KL) per tahun. Sekitar 60 persen di antaranya merupakan BBM bersubsidi, dengan volume mencapai 56 juta KL.

Dari angka itu, Hadi memperkirakan setiap kenaikan subsidi Rp1.000 per liter dapat menambah kebutuhan anggaran sekitar Rp56 triliun dalam setahun. Untuk tiga bulan terakhir 2026, tambahan kebutuhan subsidi diperkirakan sekitar Rp14 triliun.

Perhitungan ini menjelaskan mengapa fluktuasi harga minyak dunia dan kurs rupiah selalu menjadi perhatian dalam penyusunan anggaran subsidi energi.

Status Harga BBM Bersubsidi Saat Ini

Meski terdapat perbedaan antara harga subsidi dan perkiraan harga keekonomian, harga Pertalite dan solar bersubsidi belum berubah. Pemerintah sebelumnya memastikan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan hingga akhir 2026.

Kepastian itu berlaku untuk konsumen pengguna Pertalite dan solar bersubsidi. Informasi resmi mengenai penyesuaian harga, jika ada, hanya diumumkan melalui kanal pemerintah seperti Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Pertamina (Persero).

Masyarakat diimbau tidak mempercayai informasi harga BBM dari sumber tidak resmi. Segala perubahan tarif dan ketentuan pembelian di SPBU hanya sah jika diumumkan lewat saluran resmi pemerintah dan Pertamina.

Sumber: most1058fm.com

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks