TIRAINEWS.COM — Gletser tropis di Puncak Jaya, Pegunungan Carstensz, Papua, diprediksi hilang sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027 menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sejak 1980, Papua telah kehilangan empat dari enam lapisan es permanennya, dan luas es di Puncak Jaya menyusut dari sekitar 1.900 hektar pada 1800-an menjadi hanya 16 hektar. Hilangnya gletser terakhir di Asia Tenggara ini menandai dampak nyata pemanasan global di wilayah tropis Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan lapisan es abadi di Puncak Jayawijaya akan hilang total pada akhir 2026 atau awal 2027. Prediksi ini mempercepat timeline sebelumnya seiring meningkatnya suhu global yang menggeser titik beku ke lereng gunung yang lebih tinggi.
"Sulit dipercaya, tapi mungkin kita adalah generasi terakhir yang masih sempat melihat es abadi di Indonesia," kata BMKG melalui akun media sosialnya pada Juli lalu.
Penyusutan Es Sejak Era 1800-an
Gletser Carstensz terletak di sub-puncak Puncak Jaya yang menjulang hingga 4.884 meter di atas permukaan laut. Penduduk setempat menyebutnya "salju abadi" karena telah bertahan ribuan tahun dan menyimpan makna spiritual mendalam.
Data historis menunjukkan penyusutan dramatis. Sekitar 100 tahun lalu, seluruh pegunungan itu tertutup es permanen di keempat puncaknya. Kini hanya tersisa dua bagian. Luas es di Puncak Jaya berkurang dari sekitar 1.900 hektar pada 1800-an menjadi hanya 16 hektar. Sejak 2002, luas es tersebut menyusut hingga 95%.
Sejak 1980, Papua telah kehilangan empat dari enam lapisan es permanennya. Gletser Carstensz kini menjadi satu-satunya gletser tropis yang tersisa di Asia Tenggara, terletak di antara Pegunungan Andes di timur dan Pegunungan Himalaya di barat.
Mengapa Gletser Tropis Menghilang
Pemanasan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil menggeser titik beku semakin jauh ke lereng gunung. Pada akhirnya, tidak ada lagi gunung yang cukup tinggi bagi air untuk membeku.
Kondisi ini juga mengubah pola curah hujan. Lebih banyak hujan turun sebagai air alih-alih salju, mempercepat pencairan dan keruntuhan gletser. Pola serupa diyakini memicu runtuhnya gletser di Nepal yang menyebabkan banjir dahsyat pada akhir Agustus lalu.
El Nino yang terus menguat di Samudra Pasifik memperburuk situasi. Harapan untuk mempertahankan lanskap yang dulunya abadi ini semakin tipis.
Gletser Tropis Dunia yang Terancam
Gletser tropis bukan fenomena eksklusif Papua. Sebanyak 95% gletser tropis dunia berada di Pegunungan Andes, sebagian besar di Peru, dan membentang ke utara hingga Ekuador dan Kolombia.
Di Afrika, gletser Dataran Tinggi Stanley di perbatasan Republik Demokratik Kongo dan Uganda telah kehilangan 3% luas permukaannya sejak 2020. Penyusutan ini mengancam keamanan pasokan air bagi masyarakat setempat.
Makna Filosofis di Balik Kehilangan
Klaus Thymann, penjelajah dan pembuat peta asal Denmark yang memetakan gletser terakhir di Papua awal tahun ini, menyoroti dimensi filosofis dari fenomena ini.
"Es itu akan hilang, bukan soal apakah akan hilang, tetapi soal kapan," kata Thymann kepada Guardian.
"Dari sudut pandang filosofis, kita ambil konsep keabadian, sesuatu yang abstrak, konstruksi manusia, dan bahkan sekarang kita sedang menghancurkan konstruksi kita sendiri," ujarnya.
Thymann menambahkan bahwa situasi ini memunculkan pertanyaan tentang betapa kecilnya manusia dalam skala waktu geologis, dan seberapa besar kekacauan yang telah diciptakan dalam waktu singkat.
Implikasi bagi Indonesia
Hilangnya gletser Puncak Jaya menandai berakhirnya warisan alam yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Bagi Indonesia, ini menjadi indikator konkret percepatan perubahan iklim di wilayah tropis.
BMKG melalui pakar klimatologinya menegaskan bahwa lapisan es di Puncak Jayawijaya diperkirakan hilang total dalam waktu kurang dari dua tahun. Generasi saat ini berpotensi menjadi yang terakhir menyaksikan langsung keberadaan salju abadi di tanah Papua.