Pencarian

Dolar Sentuh Rp17.940, Wamenkeu Juda Agung Andalkan SBN dan Cadangan Devisa

Jumat, 02 Oktober 2026 • 08:22:01 WIB
Dolar Sentuh Rp17.940, Wamenkeu Juda Agung Andalkan SBN dan Cadangan Devisa
Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp17.940 per dolar AS pada perdagangan Kamis (1/10/2026).

TIRAINEWS.COM — Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,39% ke Rp17.940 per dolar AS pada perdagangan Kamis (1/10/2026), membalikkan penguatan 0,50% sehari sebelumnya di level Rp17.870. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan Kementerian Keuangan mengandalkan daya tarik yield Surat Berharga Negara dan penempatan cadangan devisa di Bank Indonesia untuk menahan pelemahan lebih lanjut.

Pelemahan rupiah bergerak searah dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Pada pukul 15.00 WIB, DXY terpantau menguat 0,23% ke posisi 101,678, level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.

Kenaikan DXY memperlihatkan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar masih tinggi. Kondisi itu mempersempit ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah. Greenback mendapat dukungan dari kenaikan imbal hasil US Treasury di tengah kekhawatiran tekanan inflasi global akibat perang AS-Israel dengan Iran.

Jurus Kemenkeu: Jaga Yield SBN dan Setor Cadangan Devisa ke BI

Juda Agung menyampaikan strategi Kementerian Keuangan dalam menjaga level nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjaga daya tarik yield SBN agar modal asing mengalir ke dalam negeri.

Instrumen yang digunakan antara lain penerbitan surat utang negara jenis Global Bonds dan Panda Bonds. Dana yang diperoleh dari penerbitan itu ditempatkan di Bank Indonesia dan menjadi cadangan devisa.

"Uang yang diperoleh, ditempatkan di Bank Indonesia, itu menjadi cadangan devisa. Dan cadangan devisa itu digunakan untuk melakukan stabilisasi dari nilai tukar rupiah. Ini perannya cukup signifikan buat Kemenkeu," ujar Juda saat Media Gathering di Bogor, Kamis (2/10/2026).

Cadangan devisa tersebut menjadi modal bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Dengan posisi cadangan yang memadai, Bank Indonesia punya ruang lebih besar untuk melakukan intervensi di pasar valas ketika tekanan terhadap rupiah meningkat.

Kredibilitas Fiskal Jadi Kunci Tarik Investor ke SBN

Langkah kedua yang disiapkan Kemenkeu adalah menjaga kredibilitas fiskal. Menurut Juda, kredibilitas itu menjadi bagian penting untuk mempertahankan daya tarik investasi Indonesia di mata investor global.

"Dan kebijakan-kebijakan yang menjaga kredibilitas fisikal. Itu saya kira bagian dari upaya kita untuk terus menjaga daya tarik Indonesia, sehingga investor mau masuk ke aset-asetnya seperti SBN," imbuhnya.

Aliran modal asing ke instrumen SBN berperan ganda. Selain menopang pembiayaan anggaran negara, masuknya dolar dari investor asing turut memperkuat pasokan valuta asing di pasar domestik.

Tekanan Eksternal Masih Jadi Bayangan Rupiah

Pelemahan rupiah pada perdagangan pertama Oktober terjadi setelah mata uang Garuda sempat menguat tajam sehari sebelumnya. Rupiah ditutup melemah 70 poin secara nominal dari posisi Rp17.870 per dolar AS.

Pergerakan tersebut mencerminkan dinamika global yang masih menekan mata uang negara berkembang. Permintaan aset berdenominasi dolar yang tinggi membuat investor cenderung menahan posisi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bagi pelaku pasar, perhatian utama dalam beberapa sesi ke depan tertuju pada arah imbal hasil US Treasury dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Kedua faktor itu menjadi penentu utama apakah tekanan terhadap rupiah berlanjut atau mereda.

Dari sisi domestik, strategi Kemenkeu menjaga yield SBN dan menempatkan hasil penerbitan surat utang di Bank Indonesia menjadi bantalan yang bisa diandalkan. Namun efektivitasnya tetap bergantung pada seberapa besar arus modal asing yang benar-benar masuk ke pasar SBN di tengah ketidakpastian global.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks