Pencarian

BI Pangkas Intervensi Rupiah di Pasar Spot, Kini Tinggal 30 Persen

Selasa, 29 September 2026 • 08:22:31 WIB
BI Pangkas Intervensi Rupiah di Pasar Spot, Kini Tinggal 30 Persen
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan perubahan strategi intervensi rupiah dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (28/9).

TIRAINEWS.COM — Bank Indonesia memangkas porsi intervensi nilai tukar rupiah di pasar spot menjadi sekitar 30 persen dari total intervensi, dari sebelumnya yang mendominasi. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut langkah itu diambil karena intervensi spot langsung menggerus cadangan devisa. Bank sentral kini mengalihkan mayoritas intervensi ke instrumen kontrak berjangka valuta asing seperti DNDF dan NDF.

Kebijakan pengurangan intervensi di pasar spot disampaikan Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (28/9). Menurutnya, intervensi kini tersebar di tiga instrumen: domestic non-deliverable forward (DNDF), non-deliverable forward (NDF), dan spot.

Perubahan strategi ini menandai pergeseran cara bank sentral menjaga stabilitas rupiah. Selama ini pasar spot jadi andalan karena BI bisa langsung menjual dolar AS, tetapi konsekuensinya cadangan devisa tergerus cepat.

Mengapa Intervensi Spot Dikurangi

Destry menjelaskan intervensi melalui pasar spot jauh lebih mahal dibanding instrumen berjangka. Setiap kali BI menjual dolar AS di pasar spot, posisi cadangan devisa langsung berkurang.

"Kalau dulu dominannya spot, karena kita langsung jual dolar, itu langsung gerus cadev kita," tegas Destry.

Karena itu, BI beralih mengembangkan pasar DNDF dan NDF. Kedua instrumen ini dinilai lebih efektif menjaga stabilitas nilai tukar tanpa menguras cadangan devisa sebesar intervensi spot.

"Dengan kita kembangkan DNDF dulu, kemudian NDF, itu lebih efektif walau tekanan masih ada, karena ada masalah fundamental dan struktural yang kami bicarakan dengan KSSK, khususnya pemerintah dari Kementerian Keuangan," ujar Destry.

Tiga Instrumen yang Kini Dipakai BI

Dari total intervensi yang dilakukan bank sentral, porsi masing-masing instrumen kini terbagi sebagai berikut:

  • Pasar spot: sekitar 30 persen dari total intervensi
  • Domestic non-deliverable forward (DNDF): porsi dominan
  • Non-deliverable forward (NDF): porsi dominan

DNDF merupakan instrumen lindung nilai valuta asing yang ditransaksikan di pasar domestik, sementara NDF diperdagangkan di pasar luar negeri. Keduanya memungkinkan BI memengaruhi ekspektasi nilai tukar tanpa harus melepas dolar AS secara fisik.

Tekanan Rupiah Tak Cukup Diredam Intervensi

Destry mengakui BI tidak bisa selamanya mengandalkan intervensi untuk menstabilkan rupiah. Pergerakan nilai tukar sangat dipengaruhi sentimen global maupun domestik yang berada di luar kendali bank sentral.

Stabilitas rupiah ke depan, kata dia, perlu ditopang penguatan fundamental ekonomi terutama dari sisi eksternal. Selama sektor eksternal masih lemah, upaya stabilisasi akan terasa berat.

"Kalau sektor eksternal kita masih lemah tentu itu akan berat, sehingga kami bicara bagaimana program-program tingkatkan ekspor, investasi, termasuk real investment maupun portfolio investment," tegasnya.

Pembahasan soal penguatan sektor eksternal ini dilakukan BI bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dengan pemerintah melalui Kementerian Keuangan sebagai mitra utama.

Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Usaha

Bagi pelaku pasar valuta asing, pergeseran intervensi ke DNDF dan NDF berarti likuiditas di kedua instrumen tersebut berpotensi meningkat. Importir dan eksportir yang butuh lindung nilai bisa memanfaatkan instrumen ini sebagai alternatif.

Bagi investor, pengurangan intervensi spot mengurangi risiko terkurasnya cadangan devisa. Posisi cadev yang lebih terjaga menjadi bantalan penting di tengah ketidakpastian global.

Namun, efektivitas strategi ini tetap bergantung pada perbaikan fundamental ekonomi. Tanpa penguatan ekspor dan investasi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut meski intervensi diarahkan ke instrumen yang lebih efisien.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks