Pencarian

Harga Minyak Tembus US$ 105, Subsidi Energi Rp 376,8 T per September 2026

Sabtu, 10 Oktober 2026 • 07:02:31 WIB
Harga Minyak Tembus US$ 105, Subsidi Energi Rp 376,8 T per September 2026
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan harga minyak mentah dunia sempat menembus US$ 105 per barel dalam acara APBN KiTa di Jakarta, Jumat (9/10/2026).

TIRAINEWS.COM — Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan harga minyak mentah dunia sempat menembus US$ 105 per barel dan berdampak langsung ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pembayaran subsidi dan kompensasi energi hingga akhir September 2026 mencapai Rp 376,8 triliun, setara 84,3% dari pagu anggaran. Angka itu melonjak 54,1% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kementerian Keuangan mencatat lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir. Dua acuan utama, Brent dan West Texas Intermediate (WTI), masih bertahan di level tertinggi. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan hal itu dalam acara APBN KiTa di Jakarta, Jumat (9/10/2026).

Suahasil menyebut harga minyak global sempat menyentuh US$ 105 per barel. Kenaikan itu, menurutnya, akan berimbas ke pendapatan dan belanja negara.

"Harga komoditas kalau kita lihat itu, Brent itu sebelah kiri atas US$ 102 per barel. Tapi hari-hari ini kita sudah melihat US$ 105 dan ini semua pasti akan ada implikasi ke APBN kita. Implikasi kepada pendapatan, implikasi kepada belanja dan seterusnya," ujar Suahasil.

Subsidi Energi Rp 376,8 Triliun per September 2026

Pembayaran subsidi dan kompensasi energi hingga akhir September 2026 mencapai Rp 376,8 triliun. Realisasi itu setara 84,3% dari pagu APBN dan naik 54,1% secara tahunan.

Sebagian besar dana mengalir ke Pertamina dan PLN. Pembayaran dilakukan setiap bulan sejak awal tahun.

"Tahun lalu baru dibayarkan Rp 244,6 triliun, tahun ini sudah kita bayarkan Rp 376,8 triliun," ujar Suahasil.

Konsumsi BBM dan LPG Ikut Naik

Lonjakan pembayaran subsidi sejalan dengan meningkatnya konsumsi barang bersubsidi. Volume BBM terealisasi 13.408,6 ribu kiloliter (KL), naik 9,1% secara tahunan.

Konsumsi LPG juga naik menjadi 5.761 juta kilogram, tumbuh 2,2% dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini memperbesar beban subsidi yang ditanggung pemerintah.

Harga Komoditas Lain Melemah

Di sisi lain, sejumlah komoditas andalan Indonesia justru melemah. Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) tercatat US$ 1.090,7 per ton, sedangkan nikel di level US$ 15.634 per ton.

Batu bara turun ke US$ 149,3 per ton. Harga emas melemah ke US$ 4.182 per troy ounce dan tembaga berada di US$ 14.244 per ton.

Suahasil menilai volatilitas harga komoditas dipicu ketidakpastian global. Kondisi itu tidak hanya memengaruhi harga, tetapi juga prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

"Ini tentu akan memiliki implikasi pada pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi negara maju maupun negara berkembang. Bukan hanya kepada pertumbuhan ekonomi efeknya tapi juga kepada harga-harga komoditas," terang Suahasil.

Proyeksi Pertumbuhan Global Dipangkas

Sejumlah lembaga internasional telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Proyeksi tersebut bahkan lebih rendah dari 2025.

"Lembaga-lembaga internasional menurunkan proyeksi pertumbuhan global lebih rendah. Pertumbuhan global 2026 ini diproyeksikan lebih rendah dari pada pertumbuhan tahun 2025," pungkasnya.

Masyarakat yang ingin memantau perkembangan APBN dan realisasi subsidi energi dapat mengakses kanal resmi Kementerian Keuangan di kemenkeu.go.id. Waspadai pihak yang mengatasnamakan pemerintah untuk meminta data pribadi atau pembayaran terkait bantuan energi.

Sumber: finance.detik.com

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks