TIRAINEWS.COM — Bentrokan dua badan sepak bola terbesar di dunia itu berakar pada skema Fifa Forward Enterprise (FFE), rencana Infantino untuk menjual 20 persen saham anak usaha komersial FIFA senilai USD 4,2 miliar (sekitar Rp 66 triliun) kepada investor swasta. Rencana itu batal setelah memicu gelombang penolakan pada Juli lalu.
Bentrokan Hukum di Pengadilan AS
Pekan lalu, UEFA mengajukan dokumen hukum di pengadilan AS untuk meminta akses bukti dan dokumen dari FIFA. Langkah ini terkait potensi tuntutan pidana di Swiss, di mana UEFA menuding Infantino melakukan "kesalahan pengelolaan kriminal" dan "harga pasar yang curang demi keuntungan pribadinya".
FIFA pun langsung bereaksi dengan mengajukan permohonan agar akses dokumen itu ditunda atau ditolak. Dalam berkas yang dilihat BBC, FIFA menyebut argumen UEFA "mengandung cacat fundamental" dan "kekurangan hukum". Meski begitu, UEFA menolak berkomentar soal langkah FIFA tersebut.
FIFA: Ini Soal Merasa Terancam, Bukan Keadilan
Yang menarik, FIFA membalikkan narasi dengan menyebut aksi UEFA sebagai bentuk ketakutan ekonomi. FIFA menilai UEFA justru berusaha mencegah negara-negara kecil dan berkembang punya kekuatan finansial untuk bersaing dengan klub elite Eropa.
"Jika sepak bola di negara berkembang diperkuat, persaingan global meningkat. Ini pada akhirnya mengurangi kekuatan pasar UEFA dan membuat turnamen andalan mereka dapat lebih banyak kompetisi," demikian pernyataan FIFA dalam pengajuan ke pengadilan.
Bagi FIFA, skema FFE sebenarnya dirancang untuk menaikkan dana distribusi ke tiap asosiasi nasional pada siklus 2027-2030, dari 5,9 juta poundsterling menjadi 14,7 juta poundsterling. Tuduhan UEFA soal "kampanye negatif" itu disebut FIFA hanya dimulai dari siaran pers yang tidak partisipatif.
Investor yang Jadi Sorotan: Joshua Kushner
Dalam gugatannya, UEFA juga meminta keterangan dari venture capitalist Joshua Kushner — ipar Presiden AS Donald Trump — yang sempat menjadi investor utama FFE melalui perusahaannya, Thrive Eternal. Kushner mengaku menyesal terlibat dalam proyek ini.
"Kami gagal memahami dinamika politik sepak bola global dan sejauh apa sebagian pihak akan bertindak. Jika tahu ini akan berlarut seperti ini, kami tidak akan ikut campur," ujar Kushner. UEFA juga meminta dokumen dari Greg Maffei, penasihat kunci dalam kesepakatan tersebut.
UEFA menilai nilai Piala Dunia yang dipatok sekitar 15 miliar poundsterling terlalu rendah, karena tidak melalui lelang kompetitif atau penilaian independen. Mereka pun menegaskan Infantino tidak berkonsultasi dengan hierarki FIFA sebelum menjalankan rencana itu.
Jalur Hukum Belum Berakhir
Konflik ini terjadi di tengah tekanan terhadap posisi Infantino sebagai presiden FIFA. Tiga konfederasi dilaporkan memintanya mundur. UEFA, yang memimpin perlawanan, percaya jika FIFA tidak punya sesuatu untuk disembunyikan, mereka seharusnya membuka dokumen dan mempercepat proses hukum, bukan malah meminta penundaan.